Ratusan Umat Islam Tabagsel melakukan aksi Long march di Kota Padangsidimpuan, Jangan lupakan Palestina
Dakwahsumut.com, Padang Sidempuan,- Gemuruh aksi Palestina kembali lagi digabungkan di berbagai wilayah di Indonesia salah satunya adalah di kota salak Kota Padangsidempuan. Koordiantor Aksi Ridwan Alwi menyampaikan bahwasanya Aksi bela Palestina kali ini mengajak seluruh umat Islam menyadari bahwa persatuan umat Islam sangat penting agar Palestina dapat terbebas dari genosida yang dilakukan oleh zionis Yahudi. Gencatan senjata yang terjadi pada tanggal 19 Januari 2025 bukanlah solusi akhir dari bebasnya genosida di Palestina, nyatanya berbagai serangan pembunuhan dan kejahatan-kejahatan zionis Yahudi terhadap warga Palestina terus terjadi kembali.
Pada tanggal 9 Februari 2025 pembelaan terhadap Palestina kembali digelar dalam bentuk aksi dan long march dengan tema menyambut bulan suci Ramadan jangan lupakan Palestina. Aksi dimulai dari masjid Raya Al-Abror yang merupakan icon baru masyarakat muslim kota Padangsidimpuan berjalan melewati tugu salak, pasar kota dan terakhir menyampaikan orasi di alaman Bolak kota Padangsidimpuan. Ratusan kaum muslimin setabagsel yang tergabung dalam aksi menyuarakan dukungan dan pembelaan terhadap pembebasan Palestina, mereka berasal dari Panyabungan, Kecamatan Natal, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Paluta, Palas, Sipirok Tapanuli Selatan, dan kota Padang Sidempuan.
Dalam aksi long march para peserta meneriakkan yel-yel “Palestina Palestina bebaskan bebaskan, syariat syariat terapkan terapkan, khilafah khilafah tegakkan tegakkan. Para peserta membawa dan mengibarkan bendera Rasulullah al-liwa dan ar-rayyah serta poster dukungan terhadap pembebasan Palestina. Aksi damai yang dimulai dari masjid Raya Al-Abror Kota Padangsidimpuan ini berjalan tertib dan damai, aksi dimulai dari pukul 10.20 hingga 11.50 waktu Indonesia barat
Dalam aksi bela Palestina ini ada beberapa orator yang menyampaikan orasinya kepada masyarakat. Sebagai orator pertama ust. Syarifuddin Can menyampaikan bahwasanya "kita harus selalu menyuarakan pembebasan terhadap Palestina Karena itu adalah bukti bahwa kita orang-orang bertakwa yang peduli terhadap saudara-saudara sesama Muslim. Kita juga harus terus menyuarakan solusi yang paling cepat untuk menyelesaikan masalah Palestina. "Menurutnya penting untuk terus mengingat kondisi kaum muslim apalagi saat ini, apalagi mendekati bulan Ramadan yang penuh dengan berkah dan ampunan, sejatinya diisi dengan perkara-perkara yang diperintahkan Allah, seperti peduli terhadap Palestina sebagai wujud ketakwaan yang menjadi tujuan berpuasa,” serunya mengingatkan
Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa kaum Muslim disatukan dalam ikatan yang sama, yaitu akidah. “Sehingga harus mengamalkan perintah Allah Swt. untuk mengikat persaudaraan (ukhuah) berdasarkan Islam (ukhwwuah Islamiyyah) “Dengan demikian, umat Islam memperhatikan nasib saudara-saudara Muslim yang lain lebih khusus di Palestina yang mengalami pejajahan dan genosida oleh Zionis,” ujarnya.
Dalam orasinya, ustaz Syarifuddin Chan juga mengingatkan bahwa meskipun di Palestina telah terjadi gencatan senjata, aksi pembelaan tetap harus dilakukan, karena genjacatan senjata ia katakan bukanlah kemenangan Palestina. Gencatan senjata, hanya seperti time out, seperti dalam pertandingan olahraga yang sifatnya berhenti sementara. Apalagi perjanjian gencatan senjata dengan Zionis yang memiliki watak ingkar dengan perjanjian sejak zaman Nabi Musa as. Tidak perlu percaya dengan gencatan senjata sekarang,” tegasnya.
“Untuk itu, Saudara-Saudara, kita berdiri di sini untuk menyuarakan bagi saudara-saudara kita yang berada di bumi Palestina yang mereka sampai detik ini masih terus mengalami kekejaman-kekejaman yang sangat menyedihkan sekali. Kadang kalau kita melihat dari media sosial, kita tidak sanggup lagi melihatnya, mengerikan sekali,” pungkasnya.
Senada dengan itu, orator selanjutnya aktivis pemuda Islam Kota Padangsidimpuan Andika Saputra menyampaikan bahwa kepedulian terhadap Palestina adalah bagian dari tanggung jawab kita terhadap saudara kita sesama muslim, beliau sangat bersyukur seraya memujikan kebesaran Allah subhanahu wa ta'ala karena masyarakat tanah dalihan natolu Kota Padangsidempuan masih ada yang peduli dan menyuarakan dukungan untuk pembebasan Palestina. Selanjutnya ia mengemukakan sebuah pertanyaan kepada peserta aksi “Inginkah kita membebaskan Palestina?” pertanyaan itu dijawab gagap gempita oleh peserta aksi dengan “ingin.“
Lanjut ia mengatakan dalam orasinya, ada dua poin penting yang perlu disampaikan kepada publik. Pertama, permasalahan kaum Muslim yang terjadi hari ini disebabkan oleh kapitalisme sekuler demokrasi. “Sesungguhnya inilah biang kerok yang menjadikan nasib saudara kita yang luasnya mungkin hanya sebesar kota Padangsidimpuan tidak bisa kita bebaskan. Inilah hasilnya ketika mengambil ide Barat kemudian mengakomodasi untuk menerapkan yang namanya nasionalisme hingga kaum Muslim terpecah belah lebih dari 50 negara,” bebernya
“Demikianlah kondisi riil yang dialami oleh kaum Muslim saat ini akibat disekat-sekat dengan bendera pemberian negara-negara kapitalis. Padahal umat Islam sendiri katanya memiliki bendera tauhid yang bertuliskan lafaz syahadat sebagai simbol pemersatu umat Islam dalam satu kepemimpinan,” jelasnya. “Maka kami dari Pemuda Kota Padang Sidempuan, menyampaikan kepada semua pemuda, lebih khususnya kepada pemuda yang ada di Kota Padang Sidempuan, bahwa persoalan utama kita adalah karena kita menerapkan kapitalisme sekuler demokrasi,” tambahnya.
Kedua, kaum Muslimin hanya akan mampu disatukan dengan tegaknya khilafah. “Bukan dalam bingkai nasionalisme buatan Barat, hasil Perjanjian Sky Picot yang telah memecah kaum Muslim, perjanjian Sky Picot telah memecah belah kaum Muslim. Maka yang mampu menyatukan kaum Muslim disamping bendera tauhid adalah khilafah. Maka dengan khilafah inilah, tentara-tentara yang gagah perkasa di berbagai negeri kaum Muslimin akan bisa diakomodasi, digerakkan dikirimkan, untuk membebaskan saudara kita di Palestina,” tandasnya.
Adapun orator berikutnya yang juga seorang Aktivis Muda Getra Fairudillah, menyampaikan “Ada orang-orang yang tidak suka dengan Islam, mengatakan, ‘Orang itu hanya berbicara saja dan terus mengatakan khilafah, khilafah. Apa itu khilafah?’ katanya. Kita katakan, kalau kamu tidak suka terhadap ajaran Islam, khilafah, jadi kau punya solusi apa terhadap masalah yang kita hadapi? Kalau ada solusi yang lebih baik, tunjukkan! Karena tidak akan pernah ada solusi yang lebih baik yang ditawarkan oleh Allah dan Islam,” tuturnya dalam orasi Aksi Bela Palestina di alun-alun Kota Padangsidimpuan.
Lebih lanjut Ia menjelaskan bahwa sesorang yang mencela aktivitas bicara (dakwah) dan menganggapnya bukan aksi nyata, hakikatnya adalah bagian dari kesalahpahaman dalam memahami ajaran Islam. “Islam sampai kepada banyak manusia berawal dari pembicaraan,” terangnya.
Demikian juga ketika ingin menunjukkan kepedulian terhadap Palestina dan menyampaikan solusi, tentu saja kata Getra haruslah dengan berbicara. Segala informasi bisa sampai ke telinga manusia dengan bicara.
Getra menjelaskan bahwa dengan bicara akan mampu mengubah pemahaman manusia. “Pemahaman akan memengaruhi tingkah laku seseorang, sehingga sangatlah perlu bahkan diwajibkan untuk bicara sebagai cara untuk melakukan perubahhan di tengah-tengah manusia,” serunya. “Apakah kita sadar bahwa berbuat tergantung pada pemahan kita? Kita salat karena memahami wajib. Kenapa Saudari pakai hijab syari? Karena memahami itu wajib. Oleh karena itu, berbicara tentang mengubah pemmahaman manusia itu menjadi wajib.karena berbicara akan mampu mempengaruhi pemikiran orang lain, “ lanjutnya lagi.
Ia kemudian mengatakan dalam orasinya, bahwa banyak para pemuka agama (asatidz) saat ini yang tidak menyampaikan kepada para jemaahnya tentang kesempurnaan Islam sebagai solusi atas segala persoalan hidup, termasuk masalaha Palsetina, hanya mencukupkan diri mengkaji tentang salat, puasa, dan masjid. “Mereka tidak tahu Islam itu seperti apa. Mereka tidak paham solusi-solusi yang ditawarkan oleh Islam. Ini gawat darurat. Mereka hanya memahami salat, Islam itu haji, Islam itu masjid. Padahal Islam itu menjadi solusi bagi segala perkara. Islam itu solusi bagi Palestina. Tetapi ketika ustaz-ustaz kita tidak menyampaikan itu kepada jemaahnya, bagaimana mungkin jemaahnya menginginkan syariat Islam?” tegas Getra dalam orasinya.
Lanjut ia katakan, bahwa kegiatan aksi bela Palestina yang diselenggarakan oleh Kifah Padangsidimpuan adalah bukti kepedulian terhadap Palestina. “Karena belakangan, orang-orang dan media sudah mulai redup dan bosan membicarakannya setelah lebih setahun Palestina digenosida,” meskipun telah banyak pakaian, obat-obatan, dan makanan dikirim ke Palestina, akan tetapi tidaklah menjadi solusi untuk menghilangkan gangguan yang diderita kaum Muslim di Palestina,” katanya.
Ia menambahkan, belum lagi menghadapi kelompok yang mengharapkan solusi penyelesaian atas Palestina dengan bantuan PBB. “Hal tersebut mustahil akan mendatangkan solusi tuntas. Sebab PBB ibarat orang tua bagi negara penjajah Zionis yang tidak mungkin menelantarkan anaknya, selanjutnya kita mengamati ada yang mengharapkan bantuan dari PBB. Mereka mengharapkan bantuan dari PBB untuk menyelesaikan kasus Palestina. Padahal Zionis adalah anak kandung PBB, tidak mungkin PBB menelantarkan anak kandungnya, mustahil. Oleh karena itu kita harapkan setelah ini kita makin aktif untuk menyampaikan Islam,” pungkasnya
Aksi longmarch ditutup oleh pembacaan doa yang penuh hikmat. Pada jam 11.50 wib peserta membubarkan barisan dengan tertib. [] KD.Tanjung