Aqidah Islam, Pesta Malam Tahun Baru Budaya Kafir



بسم الله الرحمن الرحيم

Oleh : Tommy Abdillah

(Khadim Majelis Ulin Nuha)


Tahun 2022 akan segera berakhir. Selama masa Pandemi Covid-19 banyak negara mentiadakan pesta malam tahun baru. Tapi kini setelah Covid menghilang entah kemana, persiapan pesta malam tahun baru mulai dirasakan. Detik-detik pergantian tahun disambut 

dengan gegap gempita hampir 

diseluruh belahan dunia. 


Pesta malam tahun 

baru seolah-olah sudah menjadi tradisi wajib tahunan dengan budaya pesta 

kembang api, meniup terompet, joget riang gembira bersama artis papan atas, pesta barbeque ayam dan ikan, menghitung mundur detik-detik pergantian tahun (count down), ada yang bergadang semalam suntuk diiringi dengan

pesta miras dan perbuatan maksiat lainnya. 

*Sekilas Sejarah Penetapan Tahun Baru Masehi*

Ada yang bilang pesta malam tahun baru adalah hari besar semua ummat manusia dan semua agama. Siapa yang bilang bro?. 

Menurut catatan sejarah, tahun baru pertama kali dirayakan pada tgl 1 Januari tahun 45 sebelum masehi (SM). Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM. 

Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir.


Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Caesar juga memerintahkan agar setiap 4 tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini.


Tidak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 sebelum masehi (SM), dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus.


Pada mulanya perayaan ini dirayakan baik oleh orang Yahudi yang dihitung sejak bulan baru pada akhir September. Selanjutnya menurut kalender Julianus, tahun Romawi dimulai pada tgl 1 Januari. Paus Gregorius XIII mengubahnya menjadi 1 Januari pada tahun 1582 dan hingga kini seluruh dunia merayakannya pada tanggal tsb.

(Ref :http://m.eramuslim.com/fokus/tahun-baru-masehi-sejarah-kelam-penghapusan-jejak-islam).


Bagi seorang Muslim dan Muslimah perayaan pesta malam tahun baru Masehi bisa 

berakibat negatif : 


1. Terkontaminasinya aqidah umat Islam dengan aqidah orang-orang kafir.


Bagi ummat Islam yang merayakan hari besar orang-orang nashrani sementara umat Islam hanya memiliki 2 hari raya. Sebuah hadist dari Anas bin malik r.a,


قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْمَدِينَةَ وَلأَهْلِ الْمَدِينَةِ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَقَالَ « قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ وَلَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ يَوْمَيْنِ خَيْراً مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ النَّحْرِ


Artinya : "Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki 2 hari raya untuk bersenang-senang dan. bermain-main di masa jahiliyah. Maka beliau berkata, Aku datang kepada kalian dan kalian mempunyai 2 hari raya di masa Jahiliyah yang kalian isi dengan bermain-main. Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari raya Idul Fithri dan Idul Adha (hari Nahr)."(HR. An-Nasai No.1.556)


2. Perbuatan Tasyabbuh Bilkuffar (menyerupai orang--orang kafir).


Pasca perang salib yang berlangsung hampir 200 tahun 

( dimulai tahun 1095 M dan berakhir tahun 1247 M) yg dimenangkan oleh umat Islam. Maka orang-orang kafir merubah grand strategy untuk memerangi umat Islam dari hard power menjadi soft power yaitu Ghazwu Al-fikri (perang pemikiran) dan Ghazwu Ats-tsaqafi (perang peradaban).


Perang ini memiliki tujuan jangka panjang yaitu pemurtadan. Jangka pendeknya pelarutan kepribadian (tidak bangga dengan identitas muslim), dekadensi moral, menanamkan pemikiran liberalisme, sekularisme, hedonisme, pluralisme. Dan pada akhirnya pelucutan akidah dalam arti tidak masalah secara identitas agamanya Islam tapi perilaku sehari-harinya jauh dari tuntutan Islam.


Tasyabbuh adalah sebuah perilaku yang dilarang oleh 

Rasulullah SAW dan hukumnya adalah Haram. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda:


مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ


Artinya : "Barang siapa mengikut-ikut kebiasaan kaum (Yahudi dan Nasrani) maka ia menjadi bagian dari kaum itu."(HR. Ahmad).


3. Perbuatan yang sia-sia.


Pesta malam tahun baru identik dengan hura-hura dan pesta pora yang menghabiskan uang, waktu dan tenaga. Sebuah perbuatan yg sia-sia lagi mubazir, sedangkan mubazir itu adalah temannya syaitan. Allah SWT berfirman,


وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ


Artinya : “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.”(QS. Al-israa': 26-27


Pesta malam tahun baru juga tidak 

mendatangkan kemanfaatan 

sedikitpun baik bagi keimanan, keilmuan maupun amal soleh. Allah SWT berfirman,


قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ

الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ


Artinya : "Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalat 

mereka. Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari 

perkataan dan perbuatan yang tidak 

berguna."(QS. Al-mu’minun:1-3).


Imam Ibnu Katsir rahimahullahu menafsirkan ayat ini, Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tiada berguna yakni dari kebathilan, yang mana hal itu mencakup juga kemusyrikan sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian mereka serta berbagai ucapan dan perbuatan yang tidak membawa faedah dan bermanfaat. 


4. Melalaikan ibadah shalat.


Biasanya orang yang merayakan pesta tahun baru akan tidur diatas tengah malam ataupun bergadang. Bila tubuh kurang tidur dan kurang istirahat dimalam hari maka akan sangat berat untuk bangun shalat subuh, apalagi shalat berjama'ah Di Masjid. Padahal orang yang berat mendirikan shalat subuh berjama'ah dimesjid adalah ciri orang-orang munafiq. Rasulullah SAW bersabda,


إِنَّ أَثْقَلَ صَلاَةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلاَةُ الْعِشَاءِ وَصَلاَةُ الْفَجْرِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِالصَّلاَةِ فَتُقَامَ ثُمَّ آمُرَ رَجُلاً فَيُصَلِّىَ بِالنَّاسِ ثُمَّ أَنْطَلِقَ مَعِى بِرِجَالٍ مَعَهُمْ حُزَمٌ مِنْ حَطَبٍ إِلَى قَوْمٍ لاَ يَشْهَدُونَ الصَّلاَةَ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ بِالنَّارِ


Artinya : “Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya dan shalat Shubuh. Seandainya mereka tahu keutamaan yang ada dalam kedua shalat tersebut tentu mereka akan mendatanginya walau dengan merangkak. Sungguh aku bertekad untuk menyuruh orang melaksanakan shalat. Lalu shalat ditegakkan dan aku suruh ada yang mengimami orang-orang kala itu. Aku sendiri akan pergi bersama beberapa orang untuk membawa seikat kayu untuk membakar rumah orang yang tidak menghadiri shalat Jama’ah.”(HR. Bukhari no. 657 & Muslim no. 651, dari Abu Hurairah).


Jauhnya umat Islam dari kehidupan Islam dibawah naungan syari'at Islam membuat orang-orang kafir semakin mudah mengajak umat Islam untuk diarahkan kepada kekufuran bahkan berhasil dimurtadkan. 


*Penutup*


Saatnya umat Islam sadar untuk kembali kepada 

aqidah Islam yang lurus yaitu diantaranya dengan meninggalkan hadharah atau peradaban budaya yang bukan berasal dari aqidah Islam dengan tidak ikut-ikutan merayakan perayaan pesta malam tahun baru. *Mari sukseskan sepikan malam tahun baru. Cukuplah sudah masa lalu bila kita pernah ikut merayakannya karena kebodohan ataupun kelalaian pada masa lalu.*


Bila hendak memanfaatkan hari libur dengan liburan bersama keluarga maka perlakukanlah sama dengan hari-hari yang lainnya tanpa harus 

mengkhususkannya.


Wallahu a’lam